Dokter, PAUD, dan Ad Hominem

paud_2512

(Sumber: jogja.tribunnews.com)

Barusan scrolling Facebook, kemudian menemukan screen capture tweet seorang dokter yang mengkritisi pendidikan PAUD. Ringkasnya, beliau menghimbau masyarakat untuk tidak ikut-ikutan tren mensekolahkan anaknya ke PAUD karena akan mengganggu tumbuh kembang otak anaknya.

Eitss, tapi saya bukan ingin membahas mengenai kesimpulan tersebut. Kalau saya ulas sedikit, pada dasarnya permasalahan tersebut multidimensi. Tidak bisa serta merta ditarik judgement bahwa pendidikan PAUD itu ‘keliru’ dari satu sudut pandang saja. Menurut saya masih ada ‘hole’ dari opini tersebut yang belum dituntaskan. Seperti bagaimana beliau hanya mendasarkan permasalahan PAUD secara general dari curhatan orang tua yang datang ke kliniknya saja. Maksud saya, apakah sudah pernah bertemu langsung dengan anak yang bersekolah di PAUD dan melakukan riset komparasi antara yang ikut PAUD atau tidak? Mungkin untuk dasar argumennya bisa ditambah dengan uji komparasi tumbuh kembang anak yang mengikuti PAUD dan yang tidak. Alih-alih hanya dari tingkat penyerapan materi konkret anak berdasar usia. Terlebih lagi, sebenarnya juga kurikulum PAUD sudah ada standarnya dari Permendikbud No. 146 Tahun 2014 Tentang Kurikulum 2013 Pendidikan Anak Usia Dini. [1]. Belakangan juga, ada rencana setiap anak akan diwajibkan mengikuti PAUD selama 1 tahun [2]. Jadi himbauan beliau mungkin saja tidak akan diamalkan, lha wong PAUD diwajibkan.

Namun bagaimanapun juga, opini tetaplah opini. Opini dilatarbelakangi dari pendidikan, pengalaman, nilai-nilai hidup, ideologi, dan sebagainya, Sehingga wajar saja, jika dokter tersebut akan melihat permasalahan pendidikan PAUD tersebut dari kacamata seorang dokter. Dalam kasus ini, seseorang yang akan melihat dari sisi tumbuh kembang otak anak. Masih banyak dimensi, seperti pendidikan sosio-kultural, psikologis, ekonomi, dll. Pastinya bakal panjang banget diskusi mengenai hal ini.

Terlepas dari itu semua, saya ingin membahas mengenai logical fallacies. Logical Fallacies menurut Purdue OWL adalah kesalahan dalam melakukan reasoning sehingga akan merusak logika dalam argumen[3].

Saya tertarik dengan beberapa komentar dari warganet, seperti

“Berani ga membandingkan berapa penghasilan dokter dan sekedar guru PAUD, bisnisnya dimana?? Dan mana yang paling banyak dibisniskan??”

“Bisnis gundulmu, orang sakit dibikin ribet mondar mandir itu juga bisnis.”

Ad Hominem, namanya. Ketika orang lebih menyerang kepada individu dibandingkan hal yang seharusnya diperdebatkan. Kebetulan saja yang berpendapat di Twitter adalah seorang dokter, yang mana punya stigma berkaitan dengan tarif pelayanan jasa yang besar.

Serangan demikian pada akhirnya jadi tidak logis dengan akar argumen yang empiris. Orang jadinya akan dengan mudah delegitimize kritik dengan simply mengatakan bahwa “kamu gak berhak buat komentar kalau kamu aja kayak gitu.”

Meskipun, memang buat beberapa kasus bisa saja fair use untuk Ad Hominem. Tapi untuk kritik dalam kasus ini ada baiknya melanjutkan diskusi dengan tidak serta merta memakai argumen Ad hominem. Apalagi bukannya mengcounter argument tapi malah menghina.

Yuk dikurang-kurangin.

 

Referensi:
[1] http://paud.kemdikbud.go.id/wp-content/uploads/2016/04/Permendikbud-146-Tahun-2014.pdf . Diakses 11 Januari 2018 pukul 00.00
[2] http://paud.kemdikbud.go.id/2016/07/22/peta-jalan-wajib-pendidikan-anak-usia-dini-disiapkan/. Diakses 11 Januari 2018 pukul 00.03
[3] https://owl.english.purdue.edu/owl/resource/659/03/. Diakses 11 Januari 2018 pukul 00.07
Iklan

Untitled (1)

Buka-buka lagi folder fotoku yang udah lama, terus baru nyadar. Betapa aku sering banget pake baju tubruk warna dari atas sampai bawah. Wkwkwkwk

283404

Pas ke Pantai bareng Dhiyaa sama Amri

 

DSC07603

Makan bareng ciwi-ciwi grup ospek di jurusan.  Nama kelompoknya aja Transducer. Why namanya pake komponen elektronika banget :’)

IMG_2687

Waktu Supercamp. Wkwk.. Warna ijo, merah, biru kupake semua.

 

My Beloved Friends

Awalnya aku berpikir kehidupan SMA akan terasa tidak nyaman. Karena aku akhirnya masuk ke sekolah Aliyah, tiga jam dari rumah. Apalagi akhirnya aku masuk ke asrama yang mengadopsi sedikit sistem pondok pesantren. Maklum saja, sebelumnya aku bersekolah di TK Dharma Wanita, SD Negeri, dan SMP Negeri. Siswi yang berjilbab saja bisa dihitung jari. Di SMP pun yang memakai jilbab cuma aku sendiri satu kelas.

Namun demikian, fear of unknown yang aku miliki runtuh satu persatu. Toh akhirnya aku berhasil mengkompletkan pendidikan  di situ 3 tahun penuh. Ada banyak pertimbangan di awal kenapa akhirnya aku bersekolah di MAN 3 Sleman. Di antaranya:

  1. Sekolah tersebut adalah MAN dan bukan Pondok Pesantren. Berarti saya bisa menyelesaikan pendidikan saya selama 3 tahun saja. Waktu itu, saya hanya diberi pilihan oleh ortu untuk memilih masuk ke dua jenis sekolah. Yakni Pondok Pesantren atau MAN. Jika saya memilih masuk ke Pondok Pesantren, setidaknya butuh minimal 4 tahun untuk lulus. 1 tahun di awal digunakan untuk penguatan Bahasa Arab dan pengabdian. Ini diperlukan jika siswa tersebut sebelumnya adalah adalah lulusan SMP. Sedangkan di MAN, meskipun pelajaran Bahasa Arab tetap ada, namun saya bisa tetap lulus 3 tahun selayaknya siswa SMA biasa.
  2. Sekolah tersebut dekat dengan rumah simbah. Orang tua bilang saya perlu bersilaturahmi dan sering berkunjung ke rumah simbah adik (adik-adik kakek). Jaraknya pun cukup dekat, hanya 10 menit dengan berjalan kaki.
  3. Tidak ada teman saya satupun. Hahahaha (*evil laugh). Saya dulu bersemangat untuk bersekolah di sini, hanya karena tidak ada teman yang mengenal saya sebelumnya. Dengan begitu, saya dapat bereksperimen melakukan hal-hal yang baru tanpa adanya prasangka apapun dari teman-teman saya sebelumnya.
  4. Saya gagal masuk ke MAN IC Serpong. MAN IC adalah plan A saya waktu itu. Tapi saya merasa kurang di tes Bahasa Arab. Hanya ada beberapa soal saja yang saya ketahui arti dan jawabannya. Padahal dulu sudah niat banget untuk masuk ke sini. Sampai-sampai minta doa keluarga besar hanya untuk ikut tes seleksinya saja. Tes masuk IC waktu itu salah satunya diselenggarakan di MAN 3 Sleman. Sehingga dengan mengikuti tes IC ini, saya jadi tahu mengenai informasi PPDB MAN 3 Sleman.

Akhirnya, aku masuk ke sekolah ini. Dari segala alasan, sepertinya teman menjadi faktor terkuat kenapa saya akhirnya bisa betah di sini. Jujur saja, pengalaman awalku menginjakkan kaki pertama kali di situ setelah resmi menjadi siswa, bukanlah pengalaman yang menyenangkan.

Datang terlambat ke asrama dan kemudian menyadari bahwa kami harus tinggal di homestay dekat sekolah karena Asrama belum boleh dipakai untuk siswa baru. Akhirnya kami berdua puluh orang siswa putri (sepertinya), harus berdesak-desakan di dalam homestay yang relatif kecil. Aku saja harus tidur di atas karpet tipis di ruang tengah. Bangun jam 3 pagi untuk dapat giliran mandi pertama serta menyiapkan bahan-bahan orientasi siswa. Mana aku buta arah di Jogja dan tidak ada transportasi pribadi untuk kesana kemari.

(oke skip saja)

Ada beberapa teman ingin saya ceritakan, yang menjadi penyemangatku dan menjadi teman dekatku

Mbak Suzash

Mbak Suzash ini kakak kelasku. Pernah menjadi tetangga kamarku. Supel, ceria, care, tapi galak. Dulu pernah tiap malam sekitar jam satu tiba-tiba buka kamarku bawa guling, terus milih tidur di karpet kamarku. Kalau enggak, desel-desel di kasurku. Waktu itu, aku memang bucik banget belajar sampai malam. Soalnya kegiatan asrama rata-rata mulai jam 6- 8 malam. Padahal aku baru pulang ke asrama sekitar jam 4-5. Jadi aku perlu belajar dan mengerjakan PR di malamnya. Nah, kalau dulu aku suka diceritain horor-horor gitu. Walhasil, biar aku nyaman belajar pintu kamar jadi tidak pernah kukunci. Jendelanya pun tidak pernah kututup.

Mengingat kebiasaanku yang masih melek dan pintu tak terkuci, menjadikan peluang bagi Mbak Suzash untuk tiba-tiba nyelonong masuk ke kamar tanpa ketok pintu. Huft.. kaget aku tuh.

Akhirnya, aku sama mbak Suzash jadi kenal. Kita masih bareng bahkan sampai Mbak Suzash menjelang lulus kuliah. Kok ya kita ditakdirkan untuk selalu bertemu ya. Wkwk. Tapi aku jadi sedih, soalnya bentar lagi tidak bisa rutin melihat Mbak Suzash langsung. Tapi juga senang karena akhirnya ia bisa memulai kehidupan yang baru setelah kuliah.

Farah:

Dia seharusnya kakak kelasku. Due some reasons in her junior high school, dia seangkatan denganku. Masih ingat sekali, kita adalah teman senasib yang tidur bersama di atas karpet tipis. Karena kedinginan akhirnya kita berpelukan, wkwk.  Dia suka sekali menulis cerita fiksi secara anonim, told me how warms her family are, story telling every night, beautiful-tall-white but don’t like to be photographed, and listening without judging. She reads a lot dan kalau nge-chat di Line pake sticker yang bejibun. Kita punya mimpi bareng buat travelling around the world. Wall stickernya dia aja peta dunia. Terus dia punya journal yang cantik gitu. Aku juga suka bentuk tulisannya. Kadang saking senangnya aku berada di sekitar dia, aku nyampe bisa cerita lubeer banget ngalor-ngidul. But she would listens. Although, she is a direct persons dan ngomong suatu hal tanpa malu-malu.

Sekarang dia kuliah di UNY dan commute everyday to her campus. Which is seems hellish for me, because I know she lives in some small village in Magelang. Yang mana sedikit banget angkutannya, terus dia pasti nyetop angkutan paling pagi dari rumah. Terus ganti bus Magelang-Jogja, terus ganti trans Jogja nyampe kampus. Jadi sekarang jarang banget ketemu dia. Paling setahun tiga kali. Itupun ketika dia randomly ngomong mau nginep di kosanku.

Tapi, semangat yaa. I love you. Wkwk

Dian:

Manja-manja gemay gitu orangnya. Rumahnya di Magelang juga. I had visited her house twice. Hampir tiap hari curhat betapa beratnya pelajaran sekolah. Terus kita jadinya belajar bareng. Tapi paling sering kamu datengin kamarku bawa buku dan meja lipat terus belajar di pojokan. Akhirnya aku jadi kek Mario Teguh, memberikan semangat dan motivasi belajar. Tapi dari atas kasurku, di kasur bertingkat terus aku yang di tingkat paling atas. Wkwkwk.

Pejuang pulang kampung seminggu sekali. Meskipun izin pulang ke rumah ketat, tetep aja ini anak izin. Di awal-awal homesick parah, nyampe bawa pasir rumah ke asrama. Terus kelas 2 awal juga masih curhat pengen pindah sekolah. Namun akhirnya kamu tetap bertahan, nak. Mama bangga.

Pas ujan tiba-tiba request nyalain musik mellow bahasa Inggris, terus dia pasang muka mellow gitu (*mbuh gatau faedahnya apa).  Then, suka banget es Jeruk. Kadang kamu nyolong waktu buat keluar sekolah buat beli es jeruk doang. Padahal masih pake mukena dan cuma pake sandal. Tapi kok ya Mahya masih mau nemenin ya. Habis itu pasang muka nikmat yang hakiki setelah nyeruput es jeruk. Wkwkwk.

Orangnya cantik, modis, penyuka pria berkumis.

Mahya

Kalem, lembut, medok asli Pemalang. Sekamar sama Dian 2 kali (2 tahun). Terus kita tetangga kamar. Akhirnya kita bersama. Dia orang yang sangat rajin. Jadi kalau aku pas bolos kelas tanya Mahya. Terus kita suka tanya jawab pelajaran gitu nyampe malam.

Aku suka banget ngegodain Mahya hanya karena muka bingung dan marahnya lucu. Trus Mahya juga gampang digodain. Wkwk

Azza

Di awal, Azza kurang percaya diri akan suatu hal. Terus lambat laun dia mulai percaya diri. And finally she rocks it. Siapa sih yang tidak mengenal Azza di sekolah. Bahkan ia jadi perwakilan siswa untuk pidato perpisahan.

Cantik, cerdas,supel dan gokil. Dulu, kita sering bareng waktu masih join klub debat Bahasa Inggris. Bahkan meskipun harus latihan nyampe tengah malem. Dan kita akhirnya sama-sama memecahkan rekor ngomong pake bahasa Inggris selama 7 menit 15 detik pas debat impromptu. Kita seneng banget. Meskipun akhirnya kamu ikut Olimpiade Ekonomi dan bahkan medalis nasional. Sementara aku sibuk di bidang lain juga. Tapi, kita tetap sama-sama mencoba mempertahankan klub debat. Padahal tinggal kita berdua doang dan dimarahin Mbak Pipit (coach kita) juga. Akhirnya yaudah, sedihnya klub nya cuma berhenti sampai situ.

Terus, kamu bilang kamu bisa merasakan energi makhluk halus. Kamu suka menatap aneh suatu lab di sekolah. Jadinya kan aku ikutan bergidik, Za. Wkwk. Soalnya kan pas ikut OSIS sama Pramuka aku sering pulang larut malam dan ngelewatin tempat itu sendirian. Habis itu pas pelantikan Pramuka di Bumi Perkemahan, kita berdua sekelompok lagi. Kita lagi bangun bivak waktu itu. Terus kamu menatap aneh lagi ke suatu tempat. Aku bilang ke kamu kalau lihat apapun ga usah diceritain dulu pas waktu itu. Cerita aja ke aku kalau udah pagi. WKWK. Akhirnya beneran kamu ceritain pas paginya. Meskipun kemudian kamu cuma berhenti di prosesi pelantikan pertama due some personal reasons.

Pun suatu pagi pernah nyelipin sepucuk tulisan di kasurku. Anonim sih. Tapi kan aku bisa nebak. Wkwk. Thank you so much Za. Akhirnya kamu kuliah di Sastra Inggris UGM,  mengikuti jejak Ibumu. I can see that you are really happy right know from your Instagram Post and your Line Post. Just do what makes you happy. I wish we could meet face to face soon. I really miss you.

Tiwi

Atlet pencak silat wanita. Tiwi ini tomboi orangnya, tapi dia punya most envious level of kerapian buat aku. Sebelumnya anak pondok pesantren. Suka banget cerita. Dia juga punya kembaran yang berbeda jauh sifatnya.

Kalau aku salaman sama dia, aku harus benar-benar ngejabat tangannya. Kalau tidak, bisa kalah tanganku. Jabatan tangannya kuat banget dan sakit. Apalagi waktu itu dia cerita, mengalahkan mahasiswa dalam turnamen dengan membelah balok es jadi dua. Apa nggak ngeri.

Tapi dia beneran rapi lho. Kadang aku tanya sama dia, emang kalau di Pondok tuh ada tutorial nyetrika dan nyuci ya? Beneran lho, dia bisa menyetrika baju-baju dengan ukuran lipatan yang sama di setiap bajunya. Habis itu bisa berbentuk stack of clothes yang rapi banget, bahkan kadang urut warna. Sampe aku bener-bener mantengin cara dia nyetrika. Dia juga selalu meluangkan waktu sebelum berangkat sekolah buat nyetrika lagi baju seragamnya. Ya Tuhan. Andai aku bisa serajin itu.

That’s it. Mungkin itu aja. Heuheu. Jadi kangen sama kalian.

Sebelum Jadi Maba: Lalu Ikut Bimbel

[Part 2]

Pagi-pagi, kudatangi sekolah seperti biasa. Seolah-olah tidak pernah ada awan kelabu di malam sebelumnya. Ah ya, aku belum menceritakan. Setiap sore, jeda sehari, aku mengikuti bimbingan belajar di luar sekolah. Sebenarnya aku sangat beruntung karena mungkin inilah bimbingan belajar di luar sekolah pertama kali dan satu-satunya yang pernah kuikuti.

Ya, sayangnya bimbingan belajar ini memakai proses seleksi. Tapi tak mengapa. Bukankah untuk mencapai sesuatu juga perlu ikhitiar. Aku jadi teringat bagaimana aku akhirnya bisa mengikuti seleksi bimbel ini.

[Flashback Start]

Hari sebelum tes, aku bahkan tidak berada di Yogyakarta. Melainkan di Semarang. Mencoba merajut sedikit demi sedikit mimpiku sekolah ke luar negeri dengan mengikuti tes IELTS terlebih dulu di sana. Kamu pasti bertanya mengapa pula aku harus sampai ke Semarang kalau di Jogja ada. Iya betul. Sayangnya aku sudah kehabisan kuota kursi untuk target tanggal tersebut. Jadi aku harus segera mengambil keputusan untuk bersiap tes ke Semarang. Padahal aku belum pernah ke Semarang, sedangkan aku hanya berangkat sendiri ke sana.

Singkat cerita, aku sudah menyelesaikan semua rangkaian ujiannya pada pukul 3 sore. Tapi, aku tidak terlalu tahu bagaimana cara kembali ke Jogja. Yang kutahu, aku mencari terminal dan mencari bis jurusan Semarang-Jogja. Betapa bodohnya aku tidak bertanya terlebih dahulu ke teman-teman asramaku yang tinggal Semarang. Akhirnya kuberanikan diri bertanya dan berkenalan dengan mbak-mbak di sampingku. Mbak-mbak yang masih muda, cantik, tinggi, dengan tatapan mata yang tajam. Lambat laun aku mulai mengenal beliau. Ia mbak Desi, alumni Psikologi UGM, alumni SMA N 1 Jogja, kepala cabang Bank di suatu daerah, dan berencana melanjutkan studi keprofesian psikologi ke UK. Ia berbaik hati menawarkan saya tumpangan di mobilnya hingga ke depan asrama karena rumahnya di Popongan. Di mana tempat itu cuma berada 500 meter dari asramaku. Bahkan sebelum pulang, kami mampir dulu ke Sam Poo Kong. Allah Maha Baik. Meskipun sendiri, penjagaan Allah ada di mana-mana.

Aku sampai di Jogja jam 7 malam. Listrik sedang padam. Suasana pun temaram. Rasanya tidak terlalu nyaman untuk membaca buku lagi, meski pun bisa saja belajar ditemani lilin yang menyala. Aku akhirnya memilih tidur saja. Paginya, aku bersama teman-teman berangkat ke Farmasi UGM. Ternyata tempat dudukku di kursi paling kanan pojok belakang. Setelah dibuka, soalnya isian semua. Wkwk.

Oke skip saja. Wkwk.

[Flashback End]

Aku tidak punya pengalaman apapun mengikuti bimbingan belajar. Pun juga tidak memiliki ekspektasi apapun. Sehingga aku merasa senang-senang saja di tempat tersebut. Bersyukurnya, aku bisa satu kelompok belajar dengan teman-teman yang sangat pintar dan fokus ke jurusan teknik dan Fisika. Sehingga, ulasan menyoal pelajaran Fisika, Kimia, dan Matematika jauh lebih diperdalam. Di situ aku merasa aku begitu tertinggal. Aku merasa menyadari bahwa banyak bab yang belum kupelajari dan pelajaran yang tidak kuperhatikan betul-betul di kelas.

Sepertinya aku terlalu banyak menggunakan kartu hijau, sebuah kartu sakti sekolah, untuk membolos kelas seharian. Hanya karena aku lebih mementingkan kegiatan organisasiku hingga benar-benar selesai jabatan. Di sisi lain, selama 1,5 tahun aku duduk sebangku dengan Gallant, yang sudah pasti memilih duduk paling belakang dan hanya bangun kalau pelajaran eksak saja. Well ini ada ceritanya kawan-kawan. Tapi tak skip saja ya. (*Wkwk, ampun Lant. Aku hanya mencari orang untuk disalahkan. Wkwk).

Akhirnya, tekad membara untuk belajar muncul. Ketika yang lain memilih buku Matematika SBMPTN untuk belajar, aku malah memilih membaca buku Matematika Dasar. Memang kebanting banget sih. Tapi mungkin itu salah satu metode supaya aku bisa cepat mengerti materi berikutnya.

Hari demi hari berlalu, waktu ujian semakin dekat.

 

Bersambung ..

 

Ketika Diminta Berpendapat Pakai Bahasa Inggris di Depan Kelas

Pada semester lalu, saya kehabisan beberapa kelas. Karena lagi-lagi saya baru aktif mengisi KRS di pagi harinya sekitar jam 7 pagi. Padahal pengisian KRS sudah dibuka sedari tengah malam. Sehingga banyak kelas sudah dibabat habis oleh orang lain. Akhirnya banyak dari kami, mahasiswa semester tanggung, memutuskan untuk menunggu keputusan departemen menambah slot kursi.

Pada akhirnya saya malah mengisi slot SKS saya dengan satu mata kuliah pilihan, yakni TIK & Masyarakat dengan bobot 3 SKS. Saya belum pernah mendapat pengalaman dosen tersebut sebelumnya. Dan lagi dilihat dari namanya sepertinya akan lebih banyak aspek sosialnya.

Saya agak masa bodoh juga sih siapa saja teman-teman saya yang akan mengambil kelas ini. Ternyata kemudian saya baru menyadari bahwa yang mengambil kelas ini hanya ada 14 orang. Padahal ruang kelasnya ada di Gedung Pusat Antar Universitas yang notabene ruangannya luas.

Setelah duduk di kursi yang seperti biasa kami mengosongkan barisan kursi depan, bapak dosen pun masuk. Beliau membawa kopi ke dalam ruang kuliah. Sebelum memulai, kami diminta untuk mengisi barisan kursi paling depan. Kursi keramat yang selalu kami kosongkan saat kuliah. Beliau mengatur duduk kami hingga mencapai line of sight beliau.

Dari pandangan awal saya, beliau memiliki kinds of intimidating stare and gesture. Beliau mulai topik kuliah hari itu dengan topic disruptive technology. Setelah memberikan sedikit pengantar, alih-alih menggunakan powerpoint beliau malah menggambar mindmap di papan tulis, Mahasiswa saat itu diminta untuk menuliskan impact dari disruptive technology. Beliau menanyakan beberapa open ended question dan membuka sesi diskusi. Kala itu, semua mahasiswa harus berpendapat. Apalagi saya yang entah kenapa malah duduk di tengah-tengah persis.

Kemudian sesi diskusi sampai di suatu pertanyaan, “Apakah perlu suatu universitas lebih fokus ke permintaan industri dengan menambah banyak skill? Kalau begitu apakah Anda setuju dengan penghapusan beberapa prodi yang roughly speaking tidak memenuhi permintaan industri?”

Banyak orang berpendapat waktu itu. Ada yang berpendapat bahwa universitas memang lebih baik meningkatkan kompetensi teknis mahasiswanya saja. Ada pula yang berpendapat setuju-setuju saja jika memang dihapuskan.

Kemudian karena saya gatal sekali ingin berpendapat, saya memberanikan diri untuk mengangkat tangan.

“Jadi pak, jika teman saya berpendapat demikian, saya ingin berpendapat dengan sudut pandang yang lain.”

“Apa itu?”

“Kebetulan saya mencari di Quora mengenai topik what is the purpose of the university….”

“Sebentar-sebentar, jadi kamu mencari pakai Bahasa Inggris?”

“Oh..i… iya pak.”

“Yasudah, sekarang kamu berpendapat pakai bahasa Inggris saja.”

“…..”

Sampai di sini saya sedikit terhenyak. Langsung ditembak dengan statement seperti itu membuat saya berpikir dulu sekian detik. Maklum saja, saya piker saya tidak terlalu lancar berbicara dengan bahasa Inggris

Namun sudah kepalang tanggung. Tidak mungkin saya mundur.

“So sir, I think we cannot solely focus on the demand of the industry. And then altering or even removing some major in the university exclusively in regards to the demand of the industry.  Based on what I searched in Quora. The purpose of the university is to deepen and understand the specific knowledge. Even Ph. D degree basically lets you understand the core of the knowledge, its philosophy and enlighting you about that pile of a topic.

Although the status quo right now shows that some major explicitly directed into a specific profession, for example, such as in engineering or medical study. I could say that we still cannot simply remove majors. There is some profession on this planet who happen does not need a respected degree. For example in leadership positions, such as a President of the country, Minister, CEO and etc. Dahlan Iskan does not have any background in Electrical Engineering but he was a director of PLN.

Besides, a lot of company right now already providing training for their freshly-graduate employee. So I think that motion is not really an urgent matter.”

 

—-

“Well said, not really bad,” pikir saya

Nevertheless, because I am remembering that right now, I think I need to refine again those opinion with better structure and elaboration.

See that in the upcoming post.

 

 

Time Proximity

As an adult, I thought that I had shifted my works into some daily routines. I go into campus at morning, came back at night, works on task and deadline, and so on. I experience fewer unfamiliar moments. Until it arrives a moment where I think I am undergone an auto-pilot settings.

I knew that in this retrospective perceive that I had, time seems to pass more quickly the older I am. Maybe I need to get out for a while of this mundane experience. So that later I could recall a longer elapsed memories.