16.6.18

So, I decided to postpone my “KKN PPM UGM” for an internship overseas. It was not an easy decision as it means that I have to work hard for the upcoming semester in return. Well, at least it is not my first crazy decision. I think don’t be hesitate to make a hasty decision or hard decision when I feel sure about that.

I can eloquently say,

I am heading to the path less traveled

It is really my first time taking a flight, and indeed my first time going abroad. Plus it is by myself.  Yet respectively I am going to the country to whom I did not speak their language even a word.

I was nervous. But somehow I can still find Qibla, do my prayers, eat halal food, and carry out my works just fine. It turns out to be a fun and thrilling experience. Though it’s still just the beginning.

 

-Aq-

in different timezone than Yogyakarta

Iklan

#3

Sometimes, I wonder at myself. Why I can easily talk hard topics in English. While in another place, often times I use Javanese instead of Indonesian language.

Toko Wiwi Taiwan

Image result for toko wiwi chiayi

There’s this particular store I often visit in the free time. Nama tokonya Toko Wiwi. Aku sering ke sini karena warung ini menyediakan menu Indonesia, memiliki sertifikat halal, serta lumayan dekat dari stasiun Chiayi City. Selain itu, kapan lagi bisa leluasa ngambil nasi kayak kuli. Itupun masih bungkus lauk lagi. Ya ya ya, tau banget. Emang aku sangat kalap.

Aku berspekulasi kalau yang punya adalah orang Jawa Barat. Itu karena menu yang disajikan kadang Karedok. Logat pemiliknya pun kayak teteh burjo deket kosan di Jogja. Setiap kali aku masuk, wajib sekali mengucap salam “Assalamu’alaikum Warrahmatullahi Wabarakatuh.” Kalau semisal aku lupa, nanti pramuniaganya pasti menyambut kedatanganku dengan mengucap salam terlebih dahulu. Sepertinya bapaknya asli Taiwan tapi beliau bisa berbahasa Indonesia. Qalqalah dalam salam terdengar kental sekali di telingaku.

Pembelinya tidak hanya orang Indonesia saja. Sering kulihat ada penduduk lokal Taiwan yang membeli. Iya, tapi ketika kedatangan orang Indonesia semua orang berubah bahasa menjadi bahasa Indonesia. Ajaib.

Di lantai tiga ada mushola kecil. Kuamati sering sesak penuh dengan para pria yang melakukan sholat wajib. Sedangkan di lantai dua, baru tempat makannya. Warungnya ditata sederhana saja. Ada hiasan kaligrafi yang lumayan banyak di dinding. Pun sering terdengar lantunan sholawat.

Selain beli makanan, aku menggunakan kesempatanku ke sana untuk berbincang-bincang dengan orang Indonesia. Kebanyakan dari mereka adalah pekerja migran atau pahlawan devisa yang sedang mencari uang di tanah orang sedangkan yang lainnya adalah mahasiswa yang sedang belajar di Taiwan. Kulihat otot mereka semakin mengeras karena tetap lembur bekerja di hari Minggu. Belakangan kuketahui mereka bekerja di daerah Puzi. Ada yang baru dua bulan, ada yang sudah setahun. Kudengar dari logatnya sepertinya orang Jawa, karena beberapa ngobrol pakai bahasa Jawa ‘ngapak’. Alhasil aku tiba-tiba jadi membalas obrolan mereka dengan Jawa Krama karena ‘Jawa ngapak’ bukan spesialisasiku. Itu hanya keluarga Abah dan ibu saja yang berbicara dengan dialek tersebut. Ataupun ibu saja yang masih tetap berbicara ngapak meskipun sudah berpuluh-puluh tahun meninggalkan tempat kelahirannya.

A Cup of Tea

Posting ini kutulis ketika di Taiwan pake keyboard mode Alfabet Mandarin-English yang awalnya sangat susah kugunakan karena kalau ‘kagok’ mencet capslok, hurufnya malah berubah jadi Mandarin. Seperti ini 點阿逮打呆  (ini ga ada artinya, cuma ngasal ketik aja).

IMG_20180702_185304

Dulu sebelum mulai pergi-pergi ke luar negeri, aku nulis pengen gain wisdom. Aku tahu menulis kebijaksanaan sebagai tujuan serasa seperti mimpi idealistik. Tapi apa salahnya, orang ini mimpiku sendiri dan aku tidak menerima judgement orang lain untuk hal ini.

Sebenarnya tulisan di paragraf berikutnya ya nggak terlalu nyambung juga kebijaksanaan. Apa ya hubungannya? Ku juga bingung. Tapi ini pertama kalinya I have to explain my faith sama orang lain. Mana jawabnya bisa panjang kali lebar gitu. Padahal mungkin kalau orang asing yang ditanyain tentang faith, bisa jadi merasa offended karena seakan-akan insulting. Beruntunglah tanyanya sama orang Indonesia ya, sangat terbuka dan tidak cepat marah. HahahaBanyak sih kejadian gitu tapi enggak yang sampai kejadian buruk. Cuma sering ditanyain aja. Kadang sama teman labku, kadang sama complete strangers di jalan, kadang sama temanku yang lainnya lagi. At least they did not do anything bad. Alhamdulillah masih bisa jadi kawan diskusi yang seimbang.

Oke berlanjut ke inti cerita. Setidaknya di sini aku bersosialisasi dengan banyak orang non-Indonesia. Salah satunya adalah temanku yang satu ini. Dia orang asing juga, selain jadi teman hang out yang seru, dia sering sekali tiba-tiba mengajak diskusi topik-topik yang ‘dalam’. Seperti mengapa aku pakai hijab dan baju panjang padahal tanpa itu aku bisa lebih cantik, mengapa orang jahat still exist even though aku beribadah sholat wajib hingga lima kali sehari, mengapa aku tidak minum wine yang dia tawarkan kepadaku, mengapa agamaku punya banyak sekali ‘restriction and rules’ yang menurutnya sangat mengekangku, dan why-why yang lainnya.

Terkadang dia juga tanya apakah wanita masih memiliki some sort of inequality di Indonesia. Apakah pasangan suami-istri di Indonesia sharing responsibility untuk mengurusi rumah tangga ataukah ada pemisahan tanggung jawab di mana pasti ayah saja yang bekerja dan ibu saja yang mengurus rumah tangga, dan sebagainya.

Aku benar-benar mencoba menjawab pertanyaannya semampuku saja, karena aku pikir aku juga gak jago buat jawab pertanyaan gituan sebenarnya. Tentu saja sangat subjektif hahahaha, karena mungkin inequality memang benar-benar terjadi tapi dia tanyanya kepadaku (dari latar belakang educated enough to study into college, but not yet traveled a lot to another place in Indonesia).

Sehingga aku jadi bilang

I don’t feel much of inequality. Because even I traveled overseas without husband because yes why I have to when I don’t have any yet. I am using hijab since age 6 years old. But it feels like literally … I just do what I want. Hahahaha. I ever went for student-council election in high school, traveled 150-km by foot and with carrier bag at my shoulders, majoring in engineering, went into national military academy of Indonesia for 10 days and even had a chance to lead them because I got the highest rank among UGM students. I did all of that when I’m still using hijab.”

Yeah, I know. Ini jawaban yang sangat sangat sombong karena lama-lama jadi sebal juga kalau dia pikir aku jadi terbelakang hanya karena pakai hijab.

Tapi kadang juga cuma kujawab dengan jawaban singkat,

“Yeah, my faith asks me to do so. It is my personal choice after all.”

“It’s okay. I just want to be ugly in front of everyone. hahaha”

Tentu saja dia merasa tidak puas. Dia tetap meminta a lot more reasoning lagi yang bisa dinalar. Sehingga ya akhirnya aku meladeninya lagi. Aku sadar sih, I’m not capable enough buat jawab pertanyaan-pertanyaan ini. Cuma karena dia tanyanya ke aku, berarti dia percaya dengan pandanganku, apapun itu. Jadi aku mencoba buat menjawab sebisaku.

Why you were using hijab to cover your hair when you’re just beautiful without that. Why?”

“Emm.. my personal choice.”

Then why? You have a lot of limitation. I don’t like that”

“Yeah it’s okay. Sebenarnya kalau kamu memilih buat pakai celana pendek ya itu pilihanmu.  Tidak ada aturan apapun yang menghalangimu buat pakai baju apa yang kamu mau. Tapi percaya saja kalau pakai baju panjang in the end juga pilihanku. I’m using hijab so everyone able to identify me as a moslem easily. When they know I am a moslem, they will put the pork aside or any kind food I don’t eat. I know, I am no fun because I can’t swim with you in public swimming pool because I did not bring my swimsuit, I am no fun because I can’t drink that Baron Das Gleans. You can just see me as an ordinary person who follows Islamic faith.”

“Yes, I am an open minded person too. We need that to understand something different and acquire perspective. Is it okay if I just use a short in Bali. “

“Yes, it’s very okay. You can even use your bikini there. No one will accuse you or something. I think a lot of foreigner there, so you can use your English without any problem.” ucapku.

“Well, my family is also religious person too. Because my mom did not even eat any meat in the beginning and in the end of the month. But I’m not, hahaha. Sometimes I think, it doesn’t matter how many times we pray. As long as you are kind to other people, you can just be fine. My mom is a good at drink.”

 “That’s great. You must be good at drink too. Hahaha.”

“Yes, I even can open the bottle with chopstick.”

Di kasus yang lain, dia tanya aku bahagia gak sih. Sebenarnya aku sangat curiga yaa, kalau topik bahagia atau enggak itu sebenarnya sindrom topik orang tua. Soalnya aku tahu dia wanita di usia akhir 20-an. Di lain waktu, pernah juga Pak Andi Arsana, sewaktu memimpin Focus Group Discussion. Beliau cerita tentang bagaimana percakapan beliau dengan orang Manhattan tentang topik kebahagiaan. Pertanyaannya ujung-ujungnya akan berkutat di “Bahagia gak sih, kalau punya segala yang orang lain gak punya?”

Temanku ini cerita, dia sebenarnya adalah guru-privat Inggris yang punya well-payed jobs, di usia muda dia punya rumah, dia tinggal di kota besar, dia punya pacar yang something, dia cantik, dia sudah keliling ke hampir semua negara-negara di Asia Tenggara, dia sudah independen, dia punya orang tua yang lengkap, dia tidak punya masalah finansial. Kemudian ada tawaran S2, dia keluar dari pekerjaan, jobless for about 8 month’s dan pergi ke Taiwan. She thinks she will just happy to choose to be a master student but she is not. She just feel nothing.

Terus dia cerita, saudaranya ngomong

you are complete. Kamu punya hal yang enggak aku punya. Kamu bisa mengambil S2 semau kamu, punya orang tua yang lengkap, dan tidak punya masalah finansial. Sedangkan aku, aku gapunya orang tua lengkap dan harus bersusah payah untuk mengatasi masalah finansialku meskipun aku mahasiswa doktoral di sini.” Tapi temenku bilang kalau saudaranya ini ketika ditanya bahagia atau enggak, selalu bilang “I am happy.”

Terus aku jadi ikutan cerita tentangku juga.

…… (skip some parts due to personal concern, hahahaha) ……. Yes I know, I am still financially-dependent. I am young, brave but dumb and often forgot my keys. I have lots of insecurities. However, up until now, I have a lot of experience. I do this-this-and this. But even though I achieve a lot. I learn that it just means nothing if I do not feel them or just feel grateful of them.

Sometimes I am happy to be selfish and ignorant. Karena aku dulu justru sangat bangga ketika guru yang hurt my feeling pada akhirnya mengucapkan selamat karena aku lolos ke tingkat provinsi pada olimpiade sains. Jadi dulu aku pernah diejek dan dipermalukan di depan kelas, di depan teman-temanku just because I do not study enough dan hanya mementingkan organisasi sekolah dan bukan kegiatan akademis. Terus tidak ada satupun yang membelaku, jadi aku keluar kelas, bolos sehari, terus nangis. Hahaha. So I felt really glad to be savage and said “Thank you teacher for your motivation.”

Aku bahkan mikir masuk major university di Indonesia bahkan bukan sesuatu yang patut dibesar-besarkan. Karena sebenarnya biasa saja. Tetapi orang-orang di desaku biasa mencariku seperti artis ataupun bilang iri kepadaku. Hanya karena tidak semua orang bisa pergi ke universitas atau karena yang masuk ke universitasku hanya beberapa orang saja. Jadi aku belajar buat bersyukur sehingga aku bahagia. Aku bahagia kok ketika kamu ngasih aku kopi atau ngasih rice-cake satu biji. Karena kenapa enggak, let’s appreciate simple happiness. Tidak membuatku cepat stress meskipun kerja praktek di sini cukup berat. Hahahaha.”

“Wah pantesan, tau ga sih kamu snoring bahkan kadang suka ngomong pas lagi tidur. Masalahnya kamu ngomongnya bukan bahasa Inggris, jadi aku ga paham.”

Terus aku kaget,

“Hah, really? Keknya habitku muncul lagi deh. Jadi tuh aku anak sok sibuk sejagat pas sma. Akhirnya karena banyak pressure, kadang temen kamarku suka ngomong kalau aku bisa diajak ngobrol pas tidur. Coba deh dites, diajak ngobrol pakai bahasa Inggris. Kalau aku jawabnya bener berarti bahasa Inggrisku sudah tingkat fasih. Hahaha”

Setelah itu kita berdua jadi cerita banyak. Bagaimana dia juga merasa sangat bangga juga karena mantannya pernah tanya ke dia lagi ngapain, trus dia jawabnya,

 “Lagi jalan nih sama pacarku.”  

Padahal mantannya lagi nggak punya pacar. Hahahaha. Entah kenapa aku jadi ikutan senang juga.

And many more.

Di lain waktu, Pak Andi memang pernah cerita tentang kebahagiaan. Bahwa meskipun pendapatan per kapita Indonesia relatif kecil. Tapi GDP Indonesia besar, dan itu berarti sesuatu. Bahwa dengan uang yang kita punya bisa digunakan untuk membeli hal-hal lebih banyak. Seperti uang 100.000 yang bisa digunakan untuk membeli 10 mangkuk bakso. Beliau cerita bahwa kolega beliau, orang Manhattan bisa jadi iri dengan kehidupan beliau karena pak Andi punya dua rumah, pembantu, halaman rumah yang luas, mobil, dan bahkan sering beli take-out (bungkus makanan). Sedangkan dengan pekerjaan yang relatif sama dan gaji yang lebih besar, hanya mampu membuat koleganya memiliki sebuah flat, tanpa pembantu, tetap punya mobil, dan jarang beli take-out. Banyaknya kepemilikan ini mungkin membuat beliau terlihat jauh lebih bahagia dibandingkan koleganya. Tidak berarti hal yang buruk juga jika mempunyai gaji lebih kecil dibandingkan koleganya di Manhattan jika Pak Andi tinggal di Yogyakarta.

Tentu kalau lagi kepikiran, ketika suatu saat aku mencapai semua milestone yang aku inginkan, Lalu apa? Apakah aku perlu berada di umur segitu dengan pencapaian atau kepemilikan tertentu untuk bahagia. Apakah aku sekarang ga bahagia kalau gitu? Tentu saja enggak juga. Aku bahagia punya banyak teman-teman yang baik. Aku bahagia punya orang tua yang men-support-ku.

The fact is that I can’t turn back time. Sometimes later, mungkin aku akan menyesal jika aku tidak appreciate the moment I have now. May 22, 1997 is my born date. Surely, there is also an exact time when I have to die.

Pun aku jadi mikir, why we have to compare ourselves with other to make sense bahwa kita bahagia. Memang sih, kadang kita akan jauh lebih bersyukur ketika kita mendapati diri ini mendapatkan nasib yang lebih baik. Namun kemudian di lain waktu kita pun jadi katakanlah iri dengki bila melihat yang lain memperoleh pencapaian/kepemilikan lebih baik dari kita.

Why can’t we just happy for them? 

Why we always have to compete with each other?

Stories #3

Tahun lalu Alhamdulillah aku berkesempatan untuk menjadi salah satu peserta Indofood Leadership Camp sebagai bagian dari BISMA-Beasiswa Indofood Sukses Makmur. Terdapat lima pelatihan yang diselenggarakan sejak awal hingga akhir tahun lalu. Pun cukup beruntung aku menjadi satu-satunya mahasiswa angkatan 2015 dari 100+ mahasiswa angkatan 2014 berbagai PTN seluruh Indonesia. Masih lumayan ingat detail setiap pelatihan-pelatihannya. Mungkin aku bisa jadi malah buat cerpen kalau semuanya kuceritakan secara detail. Aku buat untuk pos besok-besok saja yaaaa. Kalau sudah niat, hehehehehe.

Tapi ada beberapa secuil cerita yang sangat berkesan buatku.  Ini kisah ketika camp ke-II di Cirebon bulan April tahun lalu. Camp ini diselenggarakan selama 6 hari dan bertempat di hotel Bentani. Selain materi-materi, proyek sosial, cermin, FGD, outbound dan Tengkorak-Bintang, setiap peserta wajib melaksanakan positive fighter selama hampir 10 jam.

Positive fighter adalah kegiatan usaha dana (istilah gampangnya) di mana peserta melakukan berbagai usaha apapun untuk mencari uang (yang halal tentu). Uangnya ini seluruhnya akan digunakan untuk pembiayaan proyek sosial. Nah, peserta tidak dibekali uang sepeser pun. Bahkan pun tidak ada jatah makan siang. Biasanya peserta dibagi secara berkelompok antara 4-6 orang dan dilepas untuk turun ke jalan-jalan.  Ada yang mengamen, ada yang membungkus makanan, ada yang berjualan minuman botol, ada yang membantu laundry, dsb. Proyek sosial kami waktu itu adalah merenovasi dan pengadaan fasilitas di SD Bhayangkari Cirebon.

Nah, aku kebagian berkelompok dengan Mba Indah dari Universitas Syiah Kuala, Mba Ratih dari Universitas Padjajaran, dan Mba Aisyah dari Universitas Tadulako.

Waktu itu, kebetulan ada car free day. Yahh itu termasuk good start lah yaa. Dari hasil berjualan air mineral kami sudah dapat 300 ribu rupiah. Tapi masih jauh banget dari target perkelompok, yakni 900 ribu rupiah. Singkatnya kami menyusuri jalan lagi mencari peluang. Kami tetap jualan air minuman. Aku juga mencoba menyambangi kios-kios di pasar tapi hasilnya nihil karena sudah siang. Biasanya kios-kios repot kalau pagi, karena ada pekerjaan ‘buka warung’. Lama-lama aku mulai agak putus asa karena  cuaca yang panas terik dan jalan yang jauh tanpa hasil. Bahkan saking jauhnya kami jalan sampai sudah pindah Kabupaten. Ngekek sih ini. Kok tau-tau udah beda kabupaten.

Tapi anehnya Mbak Indah ini itu selalu menyemangati,

“Gapapa Lala, pasti Allah ada beri jalan yaa.”

“Pasti ada jalan kok, pertolongan Allah itu ada.”

“Alhamdulillah kita sudah dapat uang segini.”

Walhasil, mukaku yang mungkin sudah sepet ketika dengar ada yang mensemangati malah jadi batal sepetnya. Kagum aku. Beneran deh. Itu sudah titik keputusasaan tapi kok Mba Indah bisa semangat gitu lho. Padahal sepanjang perjalanan tak sambati terus (read = mengeluh).

Akhirnya beneran gaes. Jam satu siang kami menyambangi Rumah Makan Padang, Rumah Makan Sederhana. Disitu kami bertemu manajernya. Mba Indah sama Mba___ yang ngomong. And yes we officially get the rest 600k buat buka tutup pintu restoran sama jual beberapa produk di sana. Produknya ada Goat Milk sama cookies. Itu tuh pekerjaan paling menyenangkan, soalnya udah di dalam restoran yang berAC, dapet makan nasi padang terlezat, dan es teh yang menyegarkan. Aku langsung bahagia gitu dapat makanan enak gratis.

888

Tiba waktunya Azan Ashar berkumandang. Di restoran tersebut ada mushola kecil. Nah kami berempat langsung saja berwudhu dan melaksanakan sholat berjamaah. Suatu ketika saat menentukan imam. Mbak Indah, Mbak Ratih, sama Mbak Aisyah langsung nunjuk aku.

“Lah mbak, aku sebenernya anak lima belas lho. Mbak Indah dulu lah, apa Mbak Ratih, apa mbak Aisyah.”

Terus Mbak Indah bilang,

“Mungkin Lala belum tahu ya. Tapi Indah ini muallaf. Jadi masih belajar sholat juga. Kemarin pas camp I, Indah malah belum berjilbab lho.”

Kemudian aku terperangah. Sejak awal aku melihat Mbak Indah ini alim. Mulai dari sikap, penampilan, pun juga tutur kata. Jilbabnya panjang menjulur hingga ke bawah dada. Perkataannya juga menyejukkan hati. Ternyata Mbak Indah bahkan masih muallaf. Awalnya aku berpikir muallaf mungkin belajar Islam sedikit-sedikit. Tapi ternyata aku yang sangat dangkal pikirannya.

Lalu, aku buru-buru bilang,

“Beneran mbak? Ya ampuun maafkan akuuuu. Yaudah aku imam saja ya, nanti kuusahakan sholatnya pelan-pelan.”

Begitulah. Seusai sholat aku jadi sangat kepo tentang segala hal mengenai proses muallafnya Mbak Indah. Sampai-sampai proses kepo ini berlanjut hingga camp III-IV di Pasuruan.

Stories #2

Minggu 22 April 2018

Dalam kereta Pasundan menuju Bandung

.

.

Waktu sudah menunjukkan pukul 22.08. I can’t sleep, literally. Padahal perjalanan masih jauh. Aku pun sudah berada di kereta sedari jam 14.00 tadi. Di sisi kanan-kiriku cuma Dinda dan Ayu. Sekali waktu menyandarkan kepalaku di bahunya Dinda di kananku. Sekali waktu lagi menyandarkan kepalaku di bahunya Ayu di kiriku. Kemudian akhirnya memeluk tasku saja. Tidak bisa tidur.

“Kenapa ya?” batinku.

Padahal seingatku bahkan aku bisa duduk tertidur di tangga asrama SMA dulu. Dinda dan Ayu sudah tertidur pulas sejak tadi.

Tepat di depanku sebenarnya ada ada pasangan suami-istri, pasangan muda. Untunglah mereka tidak terkekeh melihatku yang nemplok sana-sini. Ngapain juga memperhatikan aku yakk. Tepat di tengah mereka ada dedek bayi. Aku tanya tadi siang nama adiknya Citra, masih berusia 6 bulan. Wadidaw, masih sangat bayi dan sudah jalan-jalan. Tapi tidak banyak rewel menurutku, adiknya malah tertawa melihat mukanya Dinda. Emang Dinda mukanya badut gitu.

Akhirnya kututup mataku lagi. Berusaha untuk tidur. Tapi lima menit kemudian kubuka mataku lagi. “Ah gabisa, melek aja lah sekalian.” ujarku.

Baru mau membuka laptop untuk mengecek materi presentasiku. Sebelum kemudian aku melihat tepat di atas tempat duduk pasangan muda ini, air AC yang menetes. Spontan aku bilang, “Mbak, mbak. Itu air AC nya netes ke kepala dedek bayi.”

Langsung dalam sekejap keduanya bangun. Masnya langsung berdiri sembari menundukkan punggungnya sehingga air AC-nya membasahi sedikit punggungnya. Kemudian mbaknya sigap memeluk dan menenangkan anaknya yang mulai rewel. Setelah itu, mbaknya menepuk-nepuk punggung masnya dan me-lap kursi penumpang dengan tisu. Akhirnya masnya pun ngecek AC-nya lagi dan mbaknya pindah posisi duduk. Pasti supaya adiknya tidak ketetesan lagi.

MasyaAllah, Tabarakallah.

Dari situ aku sangat salut ya. Ini seperti menyaksikan adegan heroik. Baru saja mereka berdua bisa tertidur setelah sedari tadi mengurusi dan mengajak main anaknya. Tapi ketika mendengar anaknya ketetesan air AC, dalam sekejap mata langsung bangun dan bergerak bekerja sama. Seakan-akan sudah tahu apa tugas masing-masing tanpa harus dikomando dulu.

Sejenak aku jadi berpikir,

“Could I be a good mother like that someday?”

“Could my husband will be that cool father?”

“Could we be cooperative like that?”

Stories #1

Alhamdulillah, nulis lagi.

Aku jadi inget dosen pas kelas Kewirausahaan kemarin sharing mengenai kisah KKN beliau dulu tahun 2002. Beliau sudah sangat semangat sharing kalau KKN beliau sungguh sulit, di daerah terpencil, air bersih harus iuran 150 ribu  -kalau di zaman tersebut, mahal banget berarti itungannya-, ke mana-mana jalan, dan ya gitudeh.

Itu awkward banget buatku, soalnya aku dari Wonogiri.

Beberapa teman-temanku yang udah hafal aku darimana terus ngecie-in gitu.

“Wih, Qil. Rumahmu kan Qil, wkwkwkwk.”

“Wah Qil, kamu pulang udah KKN terus ya. “

Aku juga ikut ketawa, hahaha. Tidak tahan. Soalnya beliau terlihat menderita, wkwk.

Kebetulan tempat KKN beliau di kecamatan yang berjarak 30 menitan kalau pakai motor. Kalau dipikir-pikir iya sih, haha. Kebetulan memang aku bukan orang asli daerah itu, tapi memang tumbuh besar di daerah Wonogiri.

Orangtua sama-sama lahir dan besar di Cilacap kemudian mengembara ke tempat lain yang sungguh berbeda. Waktu itu, usai lulus SMA. Setelah ditolak buat masuk Sastra Arab UGM (‘njuk kemudian aku disuruh jadi anak UGM buat balas dendam), bapak memutuskan ke daerah Sulawesi buat bekerja beberapa tahun kemudian kuliah di sana. Setelah itu diminta oleh simbah buat kembali ke Jawa. Akhirnya, bapak memutuskan buat daftar PNS. Dulu, meskipun memiliki IPK yang lumayan, karena bapak termasuk lulusan kampus luar Jawa akhirnya nilainya jadi kena minus banyak. Dan harus pasrah di rotasi di tempat manapun. Waktu itu yang keluar ada di Wonogiri. Tepatnya di Karangtengah.

Menurutku tempat itu sangat pelosok banget, haha. Dari kabupaten Wonogiri, sudah berjarak dua setengah jam sendiri. Dari rumahku sekarang bahkan jaraknya satu setengah jam. Jalannya betul-betul manjat gunung. Bahkan selama setahun di sana tidak ada listrik. Jalannya banyak lubang dan memang langganan longsor dan jalan ambles. Ibu pernah tersengat kalajengking di sana.

Tapi mungkin karena aku balita jadi tidak begitu terasa berat. Justru menurutku malah jadi playground paling luas. Di sana seakan jam berjalan dengan lambat dan jalan sepi juga. Jadi kalau pulang dari TK sering jalan kaki aja bareng Amat dan Supri.  Terus main ke rumah Mbok Nani dan Mbah Genuk, tetangga sebelah rumah. Beliau punya jambu mete paling enak dan sering memberiku makanan. Kadang sebelum berangkat TK, juga pergi keluar dulu bareng Bapak nyari rumput  buat makanan kelinci-kelinciku yang lucu. Meskipun sama Bapak kemudian di sate. Hahh, nightmare. Kelinciku kenapa di sate 😦

Selain itu, explore sendiri di bukit belakang rumah. Ada tandon air di atas bukit dan gubuk kecil yang ada ayunan jarik-nya. Setiap hari aku juga main ke rumahnya Rara. Biasanya mainanku yang banyak kutaruh di karung dan karungnya kuseret sampai depan rumahnya. Supaya banyak permainan dan tidak bosan bermain. Kadang juga ke rumahnya Amat. Ayahnya punya usaha batu-bata dan batu akik. Jadi aku bisa melihat batu akik yang bagus-bagus.

Jika semalam hujan, maka pagi-pagi sekitar jam 6 aku bakal dibangunkan dan diajak keluar. Pasti ada laron yang sungguh banyak memenuhi jalan. Itu scene yang dreamy banget di ingatanku.

Bapak sebagai kepala KUA pernah cerita sih, kalau di Karang Tengah itu sibuk banget jadi penghulu. Banyak pasangan yang menikah muda, bahkan meskipun masih berusia belasan tahun. Kemudian seusai TK, Bapak di rotasi lagi. Akhirnya kami meninggalkan tempat itu dan turun ke tempat yang lain.

Di tempat yang baru, sungguh berbeda. Setidaknya aku sendiri bisa menyebutnya desa yang ramai. Di tempat yang baru ada suatu sentral, yakni pasar tradisional, yang menjadi tempat ramai orang-orang melakukan jual beli. Akhirnya muncullah toko-toko kecil. Beberapa kemudian menjadi besar dan berubah menjadi swalayan. Institusi pendidikan (SD, SMP, dan SMA) juga hitungannya juga lumayan banyak. Banyak anak-anak dari kecamatan di sekitar memilih buat sekolah di kecamatanku. Karena ramai, kadang di lapangan besar sering diselenggarakan pasar malam. Tiap lebaran juga ada festival takbiran keliling desa.

Namun kemudian aku mengerti kenapa dosenku memilih untuk memilih membeli air. Hal ini karena wilayah Wonogiri berada di bukit Gamping. Sehingga air sumur melarut bersama dengan mineral gamping. Kami pun merebus air hingga dua kali. Karena bahkan di panci terdapat kerak gamping di dasarnya. Aku tidak begitu mengerti apakah terus menerus meminum air yang terlarut mineral gamping akan menimbulkan bahaya bagi tubuh atau tidak.

Namun demikian selama ini memang tidak terlihat ada indikasi bahaya. Mungkin aku perlu cari tahu mengenai hal ini sih.

Tapi menurutku agak aneh sih. Tempatku mungkin hanya berjarak dua jam dari Solo atau tiga jam dari Yogyakarta. Di mana notabene kedua kota ini merupakan kota sorotan karena betapa maju pendidikannya atau industrinya. Sayangnya kemajuan ini tidak serta merta membuat Wonogiri menjadi kabupaten yang ikutan berkembang karena memiliki tetangga-tetangga yang hebat. Even aku juga sering jika ditanya anak Jogja dan sekitarnya pertanyaan,

“Loh kamu dari Wonogiri. Emang Wonogiri itu di mana e?”

Aku mengira hal ini karena memang sedikit anak-anak yang melanjutkan pendidikan di Yogyakarta. Kebijakan otonomi daerah pun juga mungkin membuat beberapa daerah tidak saling bekerja sama atau at least menularkan semangat yang sama. Bukan rahasia juga kalau semisal anak mudanya banyak yang memilih bekerja di kota industri seusai lulus SMA.

Mungkin aku bisa berbuat lain (?). Tapi apa ya …

Ini nih kadang bikin orang kaget.

“Loh kok njegleg. Dari tidak ada listrik, malah kuliahnya di TETI (Teknik Elektro dan Teknologi Informasi). Bukan di TE nya malah di TI nya.”

“Kok nggak di TE (Teknik Elektro) sih?”

“Kok nggak di Sipil sih.”

“Kok nggak di Geologi sih.”

Kemudian kusembunyikan jawabannya dalam tawa. Wkwk :))